Keberuntungan Pemula ( SAMGONG )

Keberuntungan Pemula ( SAMGONG )

Keberuntungan Pemula ( SAMGONG )
Sebut saja namanya Yulia. Yulia adalah perempuan berusia 24 tahun seorang pekerja kantoran yang bergerak di bidang periklanan. Suatu kali, di sela-sela pekerjaannya, dia melihat seorang teman lelaki sekantornya yang sedang tenang dan memperhatikan layar komputernya.

Yulia mengintip dari mejanya untuk melihat apa yang sedang diperhatikan temannya itu. Temannya itu, seorang lelaki berusia 21 tahun bernama Antoni, tidak menyadari bahwa Yulia sedang memperhatikannya. Dengan cara bercanda, Yulia mengagetkan Antoni.

“Haayyyo, ngapain lu?” kata Yulia.
Antoni jelas terkejut dengan kehadiran Yulia. Lalu, Antoni melihat-lihat situasi kantor untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang benar-benar memperhatikan mereka. Antoni menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Yulia duduk di atas kursi tersebut.
“Gue lagi main samgong,” kata Antoni dengan setengah berbisik.
“Samgong? Apaan tuh?” tanya Yulia dengan nada berbisik pula seakan-akan mengetahui bahwa apa yang dilakukan Antoni bisa menjadi masalah di kantornya karena dia tidak bekerja di jam kerja.
Antoni tidak menjawab pertanyaan Yulia secara langsung, dia hanya meminta Yulia untuk diam. “Sebentar.”
Hanya beberapa detik kemudian, Antoni mengklik salah satu fitur di layar komputer kemudian menunjukkan sikap kegirangan yang ditahannya agar tak menarik perhatian orang-orang di ruangan itu.
“Beres, gue dapet enam juta,” ujar Antoni.
“Enam juta? Gimana caranya?”
“Emang lu mau tahu banget?”
“Ya iyalah.”
“Ini namanya Samgong. Yang gue mainin ini samgong online. Taruhannya pake duit. Hari ini gue menang enam juta. Lumayan.”
“Ajarin gue dong.”
“Ajarin? Lo mau jadi penjudi?”
“Kenapa enggak?”
Malam itu, Antoni mengajak Yulia berkencan di sebuah restoran di wilayah Kemang, Jakarta Selatan, dengan alasan untuk menjelaskan bagaimana cara bermain Samgong.
Usai makan di restoran, mereka pulang. Baru sampai di teras restoran, hujan turun.
“Aduuuh, gimana ini? Hujan,” kata Yulia.
Antoni menawarkan Yulia untuk mampir ke apartemennya yang tidak jauh dari restoran tersebut.
Di apartemen, Antoni langsung membuka laptopnya dan menunjukkan table samgong online sambil cas-cis-cus mengajarkan Yulia permainan tersebut.
“Samgong itu permainan kuno yang menggunakan kartu remi. Dimainkan paling sedikit oleh dua orang. Biarpun udah kuno, tapi masih tetap eksis di zaman internet. Sekarang disebutnya samgong online.
“Cara mainnya, bandar bagi-bagiin tiga kartu ke semua pemain. Pemenangnya kalau angka kartu pemain dijumlahkan, jumlahnya jadi tiga puluh. Kalo belum cukup tiga puluh, masih ada kesempatan bagi pemain untuk menambahkan dua kartu lagi. Nah, waktu menambahkan dua kartu tadi, seorang pemain bisa menaikkan taruhan untuk menggertak lawan supaya lawan menduga kartu si pemain lebih baik dari mereka. Kalau gertakan itu termakan lawan, lawan bisa mengundurkan diri dari permainan dan uang taruhan buat si pemain yang menaikkan taruhan itu.
“Tapi, hati-hati juga, kalau lawannya jago, dia bisa membalas gertakan kita. Biar aman, kalau kartu kita nggak lebih dari 25, sebaiknya kita berhenti. Tapi kalau kita punya ambisi dan insting dengan kartu yang masih tersedia di meja, silahkan ambil kartunya. Kalau beruntung dan insting kita tepat, kita bisa mendapatkan kartu yang kita mau. Permainan berhenti kalau ada satu pemain yang membuka kartunya, itu berarti pemain lain juga harus membuka kartu.”
“Gitu doang?”
“Ya, gitu doang.”
“Ya udah,” Yulia meninggalkan Antoni setelah mencium pipi Antoni sekali. Antoni bengong dengan perlakuan itu.
Esok harinya, Yulia datang lagi ke meja Antoni.
“Ton, semalem gue cobain tuh Samgong. Kalah gue.”
“Kalah berapa lu?”
“Sejuta setengah?”
“Sejuta setengah?”
“Iya”.
“Aduuuh, lu baru sekali main kan?”
“Iya.”
“Aduuuh, harusnya lu jangan taruhan yang gede dulu kalo masih pertama.”
“Abis gue penasaran.”
“Yang penting lu pelajarin dulu aturan dan kecenderungannya.”
“Ajarin gue lagi.”
“Ajarin lagi? Tapi jangan di sini, di apartemen gue ya. Malam ini.”
“Oke.”
Di apartemen Antoni malam itu, Yulia sibuk di depan layar komputer. Sementara Antoni hanya menonton tivi karena tidak mau mengganggu kesibukan Yulia. Tepat pukul setengah tujuh pagi, Antoni yang tertidur di atas sofa dibangunkan oleh Yulia.
“Ton! Ton! Bangun!”
Antoni membuka matanya perlahan dan melihat wajah Yulia yang tampak seperti orang yang belum tidur.
“Ton, gue menang, menang sepuluh juta.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *